Mengintip Jalan Seribu Pandang di Istana Kepresidenan Cipanas

Mengintip Jalan Seribu Pandang di Istana Kepresidenan Cipanas

Dengar-dengar di Istana Kepresidenan Cipanas ada “Jalan Seribu Pandang”. Penasaran dong, seperti apa itu rupanya. Sementara saya sendiri seumur-umur belum pernah masuk ke istana presiden tertua itu. Akhirnya kepenasaran saya terjawab setelah diajak Ibu Bupati Cianjur melalui program HACI-nya.

Apa itu HACI? Ialah jargon yang digaungkan Ibu Ratu Eliesye, Ibu Bupati Cianjur dalam upaya memajukan kota Cianjur yang selama ini ibarat kota mati (lost county). Ya, sejak dibukanya tol Cipularang, banyak orang yang “melupakan” jalan ke Cianjur karena memilih jalan pintas melalui tol tersebut. Tinggallah Cianjur yang sepi, terlupakan.

Nah Ibu Bupati ingin menghidupkan kembali kota Cianjur dengan segala keanekaragaman budaya, sumber daya, dan segalanya. Salah satunya dengan program HACI, kependekan dari Hayu Ameng ka Cianjur…

Ada apa sih di Cianjur?

Banyak… salah satunya ya Istana Kepresidenan Cipanas ini. Yang di dalamnya ada Jalan Seribu Pandang, ada pemandian air panas, ada Gedung Bentol, dan masih banyak lagi.

Senin, 19 Pebruari 2018 saya beserta rombongan yang tergabung di Blogger Cianjur bersama Mojang Jajaka (Moka) Cianjur beserta team panitia dari Dinas Pariwisata melakukan kunjungan ke Istana Kepresidenan Cipanas.

 

Senang rasanya kami mendapat kesempatan dan kepercayaan dari Dinas Pariwisata untuk dapat ambil bagian dalam acara pemberdayaan duta wisata yang bertujuan untuk mempromosikan potensi wisata yang ada di Cianjur.

Istana Kepresidenan Cipanas ini konon katanya istana yang tertua diantara istana yang ada di Indonesia, karena istana Cipanas inilah yang pertama kali dibangun pada masa pemerintahan Belanda oleh Gubernur Jendral Gustaaf William Baron Van Imhoff yang digunakan sebagai tempat peristirahatan.

Istana ini terbagi ke dalam beberapa bangunan, diantaranya adalah bangunan induk yang resmi disebut gedung induk. Bangunan ini khusus untuk tempat peristirahatan presiden dan wakil presiden.

Di sekeliling gedung induk terdapat beberapa paviliun. Nama-nama paviliun tersebut diambil dari nama tokoh pewayangan yaitu paviliun Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, Abimanyu, Antasena dan Tumaritis. Ruangan paviliun ini digunakan untuk para menteri dan tamu kenegaraan yang berkunjung.

Rasa syukur dan bangga bisa masuk, melihat dan merasakan suasana di dalam Istana orang nomor satu di Indonesia. Karena selama ini saya hanya lewat dan melihat dari luar.

Dibimbing oleh seorang pemandu kami memasuki ruangan satu persatu, mulai dari ruang depan sebagai ruang paviliun utama. Ruangan inilah yang asli yang dibangun pertama kali, bahan dan desain bangunan ini masih asli. Bisa dibayangkan usia bangunan yang sudah ratusan tahun masih kokoh bertahan.

Ruang paviliun utama ini berfungsi sebagai tempat beristirahat presiden dan wakil presiden. Di ruangan ini terdapat karpet peninggalan presiden Soekarno yang didatangkan dari Turki sementara kursinya peninggalan presiden Soeharto dengan ukiran khas Jepara dan yang menarik adalah dua buah lampu kristal peninggalan belanda yang asli dari Maroko semakin menambah cantiknya suasana istana.

Ruangan berikutnya adalah ruang sidang, ruangan ini berfungsi juga sebagai ruang jamuan untuk tamu kenegaraan. Ruang sidang ini juga menjadi saksi peristiwa sejarah di era Soekarno, tepatnya pada tanggal 13 Desember 1965 Presiden Soekarno memimpin sidang kabinetnya untuk menetapkan perubahan nilai mata uang dari Rp.1000 menjadi Rp.1 yang dikenal dengan istilah Saneering.

Di era Soeharto tepatnya tanggal 14-17 April 1993 atas inisiatifnya, istana ini menjadi tempat pertemuan antar kelompok yang bertikai di Filipina, yaitu antara pemerintah filipina dengan kelompok Moro National Liberation Front (MNLF) yang dipimpin oleh Nur Misuari. Perundingan tersebut dipimpin oleh Ali Alatas, kala itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri.

Selanjutnya kami pun melihat ruang kerja presiden namun sayang di tempat ini pengunjung tidak diijinkan masuk dengan alasan privacy, begitu juga ruang tidur tempat perstirahatan presiden tertutup untuk umum.

Menuju ke bagian belakang, tempat tidur para putra-putri presiden dan wakil presiden, kami melewati lorong dengan hiasan berbagai lukisan yang terpajang di kiri kanan dinding. Ada satu lukisan yang menarik, yaitu lukisan dengan judul “Jalan di pinggir Sawah” buah karya Soejono D.S. yang dibuat pada tahun 1958. Namun lukisan ini lebih dikenal dengan “Jalan Seribu Pandang”. Kenapa lukisan ini disebut Jalan Seribu Pandang?Karena kalau dipandang dari arah manapun jalan dalam lukisan tersebut selalu tampak lurus. Penasaran? Ayo datang ke Cianjur dan buktikan sendiri lho keistimewaannya.

Namun sayang, aturan ketat pihak protokoler istana melarang pengunjung mengambil gambar di dalam ruangan, hal ini bisa dipahami demi keamanan dan kenyamanan bersama.

Setelah puas berkeliling, sebelum pulang jangan lupa mampir ke kedai Cinderamata untuk buah tangan sebagai kenang-kenangan. Aneka cinderamata dijajakan siap untuk memanjakan orang-orang tercinta.

 

2 Comments

  1. Lisa Maulida R

    Juni 24, 2019 at 12:12 am

    Jadi penasaran sama tempat ini. Saya dan suami suka banget wisata historikal begini. Trims ya mas Iwan buat informasinya. Semoga ada kesempatan main ke Cipanas ini..

  2. Gauss One

    Juni 24, 2019 at 10:12 am

    Silakan Mbak Lisa. Semoga bermanfaat. Semoga kesampaian main ke Istana Cipanas

Leave a Reply