(Bukan) Dilema Renang

Dengar pembicaraan istri dan temannya, Sabtu atau Minggu besok mau mengajak Fahmi dan puteranya berenang di Sukanagara.

Geliat olahraga renang saat ini memang sudah banyak bermunculan, tidak terkecuali di Cianjur Selatan. Sekarang ada dibuka beberapa kolam renang seperti di perbatasan Pagelaran-Tanggeung (Sinagar) dan atau di Sukanagara. Banyak pebisnis yang lebih dulu melihat peluang bisnis kolam renang ini meski lokasi ada di pelosok.

Sebagai Muslim, tentu tidak asing dengan berenang. Rasulullah menyebutkan mengajarkan renang bukan termasuk perbuatan yang sia-sia. Hanya saja Rasul tidak secara langsung memerintahkan, apalagi mencontohkan.

Dalil yang amat populer di tengah masyarakat mengajarkan berenang, termasuk di dalamnya memanah dan menunggang kuda, ternyata bukan hadits nabi. Para ulama umumnya menyebut perintah itu merupakan perintah dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu. cmiiw.

عَلِّمُوا أَوْلاَدَكُم السِّبَاحَةَ وَالرِّمَايَةَ وَرُكُوْبَ الخَيْلِ

Umar bin Al-Khattab berkata,”Ajari anak-anakmu berenang, memanah dan naik kuda”.

Bila tujuan dan tata cara Renang sesuai dengan ketentuan syariah, hukumnya bisa menjadi mustahab atau sunnah. Sebaliknya bila tujuan atau tata cara yang dipakai bertentangan atau berseberangan dengan ketentuan syariah, hukumnya bisa berubah menjadi makruh, bahkan sampai ke tingkat haram.

Agar berenang tidak menyalahi ketentuan syariat, maka renang harus dijaga agar jangan sampai sesuatu yang hukum dasarnya halal, kemudian berubah menjadi haram, karena (misalnya) ada unsur yang bertentangan dengan syariat.

Saya sendiri tidak bisa berenang. Baru nyemplung ke kolam renang setelah anak minta main ke kolam renang. Padahal belajar renang sebaiknya dilakukan sejak kecil. Kenapa? Ya kalau belajar sejak kecil lebih mudah saja ya. Selain itu kalau masih kecil belum terikat dengan aturan masalah membuka aurat serta keharusan menjaga pandangan di kolam renang.

Banyak yang melalaikan, renang lalu membuka aurat. Padahal urusan menutup aurat tetap kewajiban yang tidak ada keringanannya. renang kan tidak ada unsur daruratnya.

Aurat laki-laki tetap harus ditutup batasnya yaitu antara pusat dan lutut. Seorang wanita dengan sesama wanita berbeda dengan aurat wanita di depan laki-laki yang asing dan bukan mahram. Sesama wanita boleh terlihat bagian-bagian tubuh tertentu seperti rambut, tangan dan kaki. Di depan orang laki-laki asing, batasnya tetap seluruh tubuh kecuali kedua tangan hingga pergelangan dan kedua kaki hingga batas mata kaki.

Sebaiknya untuk muslimah berenang di tempat yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Tujuannya bukan sekedar terjaga aurat, tetapi juga agar tidak terjadi campur baur antara laki-laki dan wanita. Tidak satu kolam gitu maksudnya.

Masalahnya kolam spesial seperti itu ya susah ya. Apalagi di Pagelaran Cianjur Selatan. Ada kolam renang umum saja sudah untung ya, hehehe…

Semua kembali lagi kepada kita sendiri sih ya. Kita siasati saja sebisa mungkin supaya terhindar dari hal negatif menurut hukum Islam.

Wallahualam

Leave a Reply